Bisnis properti adalah salah satu bisnis yang paling diminati masyarakat Indonesia. Pasalnya, harga properti di Indonesia tak pernah turun. Punya properti juga membuat gengsi seseorang semakin meningkat.

Rumah dan lahan di kota besar yang terus meroket dari waktu ke waktu membuat masyarakat semakin kesulitan memilikinya, terutama yang berpenghasilan pas-pasan.

Untuk mengatasinya, pemerintah dan sejumlah pengembang memberikan solusi jitu mulai dari program uang muka yang rendah, turunnya suku bunga hingga cicilan yang ringan.Mendapatkan hunian yang layak dengan harga bersahabat belakangan semakin sulit, mengingat harga lahan dan bahan bangunan yang terus merangkak naik.

Namun, kebutuhan memiliki tempat tinggal sebagai kebutuhan primer manusia, mutlak dimiliki setiap orang. Maka dari itu, untuk memenuhinya, diperlukan perencanaan keuangan yang matang.

Agar keinginan membeli rumah bisa tercapai dalam target waktu tertentu. Apalagi jika pendapatan per bulan yang diterima tidak terlalu besar, pembagian pengeluaran harus diperhatikan dengan baik, termasuk dalam mengalokasikan dana untuk down payment (DP) dan cicilan kredit pemilikan rumah (KPR).

Perencana keuangan Prita Ghozie mengutarakan, angka 20% sampai 30% pada uang muka rumah kerap kali menjadi hambatan pertama yang ditemui. Oleh karena itu, dalam ilmu perencanaan keuangan, sebaiknya Anda mengalokasikan penghasilan untuk beberapa pos. Misalnya, 50% sampai 60% untuk biaya hidup bulanan.

Sebesar 20% untuk tabungan dan investasi sesuai tujuan finansial, sementara 10% untuk dana darurat. “Maksimal 30% apabila masih ada cicilan pinjaman. Bilamana ada, maka alokasi untuk pos pengeluaran lain akan berkurang,” tuturnya.

Dirjen Pembiayaan Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Lana Winayanti juga menyebutkan, menabung untuk membayar DP menjadi solusi yang lebih tepat bagi masyarakat untuk mendapatkan hunian.

Menurut dia, DP dalam jumlah besar akan memudahkan masyarakat untuk mencicil karena mengurangi jumlah cicilan per bulan sehingga kepastian melunasi rumah pun lebih terjamin.

Salah satu pengembang yang memberikan kemudahan dalam hal pembayaran adalah Bestari Sawangan yang meluncurkan Program Subsidi 5% dari setiap pembelian selama Ramadhan dan Idul Fitri 2017 untuk unit Rumah besutannya, yaitu Bestari Sawangan.


Konsumen dapat mencicil KPA melalui BTN setelah membayar booking fee senilai Rp 2.5 juta. Menurut dia, masih banyak masyarakat yang menunda untuk memiliki hunian karena besarnya DP yang harus dikeluarkan. Keringanan DP melalui mekanisme subsidi diyakini akan memudahkan masyarakat yang ingin memiliki hunian.

Rumah merupakan idaman bagi semua orang, tak terkecuali bagi Anda yang berpenghasilan minim. Jangan kecil hati dulu, beberapa strategi di bawah ini bisa Anda intip sebagai strategi untuk memiliki hunian idaman.

Gaji kecil tidak perlu khawatir ketika ingin membeli rumah. Berita baiknya saat ini pemerintah menurunkan uang muka rumah KPR sehingga membeli rumah kini semakin mudah.

Untuk Anda yang berpenghasilan kecil pun bisa mendapat rumah impian yang ramah dengan kantong. Menurut Aleviery Akbar, Associate Director Divisi Residential & Sales dari Colliers Internasional, uang muka rumah saat ini turun menjadi 15% dari harga rumah diperuntukkan bagi pembayaran DP untuk landed house atau rumah tapak pertama dengan luas lebih dari 70 meter persegi (m2).

Ada beberapa faktor yang menyebabkan sebagian orang masih belum berani mencicil rumah. Pertama, harga rumah yang dinilai terlalu tinggi. Kedua, sulitnya menabung uang muka (DP). Atau ketiga, jumlah cicilan rumah yang cukup besar sehingga tak sesuai dengan penghasilannya.

Demi mengatasi masalah di poin ketiga, BPJS Ketenagakerjaan bersama dengan PT Bank Tabungan Negara (BTN) bekerjasama meluncurkan fasilitas pembiayaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bagi pesertanya.

Baca juga: Mau Cicil Rumah Dengan Bunga Rendah? Pakai BPJS Saja!

“Guna melancarkan program, saat ini kami (BTN) tengah meminta BPJS Ketenagakerjaan untuk memberikan daftar perusahaan yang tertib membayar iuran, untuk kemudian kami lakukan sosialiasi bersama kepada karyawan-karyawannya yang ingin membeli rumah pertama,” terang Suryanti Agustinar, Executive Vice President Non Subsidized Mortgage & Consumer Lending Division Bank BTN.

Sosialisasi program bahkan telah dilakukan di delapan daerah, mencakup area Jawa, Jakarta, Sumatera, sampai Batam. Soal syarat mengikuti program KPR pun sebenarnya relatif mudah.

“Jadi karyawan tinggal tentukan mana rumahnya, dengan catatan harga huniannya harus di bawah Rp500 juta, boleh apartemen atau rumah tapak. Lalu si karyawan harus dipastikan sudah merupakan karyawan tetap dengan masa kerja minimal satu tahun,” imbuh Yanti.

Agus Susanto, Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan menguraikan beberapa persyaratan yang wajib dipatuhi masyarakat peserta BPJS Ketenagakerjaan, meliputi;

Telah terdaftar aktif sebagai peserta BPJS manfaat Jaminan Hari Tua (JHT) minimal selama 1 tahun.
Perusahaan tempat bekerja tertib administrasi dan iuran serta tidak berstatus Perusahaan Daftar Sebagian (PDS) upah maupun tenaga kerja.
Belum memiliki rumah sendiri.
Peserta yang mengajukan pinjaman telah lolos verifikasi kredit dari Bank penyalur yang bekerjasama.
Lihat juga: Kumpulan Apartemen yang Bisa Dicicil Pakai BPJS-TK

Bagi masyarakat yang tertarik dan merasa telah memenuhi persyaratan yang ditetapkan, berikut sejumlah tahap demi tahap yang perlu dilakukan.

1. Peserta mengajukan fasilitas KPR ke bank kerjasama (saat ini masih BTN), dengan menyertakan copy bukti kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan.
2. Bank kerjasama akan melakukan verifikasi dan BI Checking. Pastikan tidak masuk ke dalam blacklist BI agar permohonan kredit bisa disetujui. Cara untuk mengetahuinya bisa dicek di sini!
3. Setelah melewati verifikasi awal, bank kerjasama akan melanjutkan permohonan kredit tersebut ke Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan untuk dilakukan verifikasi kepesertaan.
4. Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan akan mengirim formulir persetujuan kepada bank kerjasama untuk kemudian diproses/ditolak, sesuai dengan hasil verifikasi kepesertaan yang akan dikonfirmasikan oleh bank kerjasama kepada peserta yang mengajukan kredit.

“Disetujui atau tidaknya permohonan KPR, itu merupakan kewenangan dari BPJS Ketenagakerjaan. Jadi bukan dari keputusan BTN. Karena ini menyangkut bunga rendah yang ditawarkan yakni sekitar 7,75% jika mengacu pada 7-days reverse repo rate saat ini. Angka tersebut relatif lebih rendah dibandingkan bunga KPR komersil yang ada di kisaran 9%.” ujar Yanti.

Sebagai penutup, Yanti mengatakan saat ini BTN telah membukukan sebanyak 50 akad kredit untuk rumah yang dibeli nasabah dengan memanfaatkan fasilitas KPR dari BPJS Ketenagakerjaan.

K2 Search

K2 Calendar

« April 2018 »
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
            1
2 3 4 5 6 7 8
9 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30